Rabu, 16 September 2009

STORY

Aku putuskan dengan mantap bahwa aku harus pergi meninggalkan rumah yang ku huni ini. Berpetualangan di alam bebas menikmati indahnya alam di luar sana. Aku tahu, bahwa meninggalkan rumah adalah keputusan seorang gadis seperti aku adalah konyol. Bisa di katakan ceroboh. Tapi apakah aku sanggup bertahan untuk menjalani hidupku hanya di rumah. Bosan!, itulah yang aku alami sekarang. Maafkaan aku, inilah niat yang ingin ku tempuh. Selamat tinggal semua tanpa aku kalian dapat lebih leluasa menjalani hidup kalian. Tak ada lagi perawatan khusus untukku. Dan tak ada lagi yang dapat merepotkan kalian. Selamat tinggal ayah,ibu,dan kau abangku
. ………………………
Udara malam ini sungguh menusuk paru-paruku. Menelusuri jalan sepi dan bercahaya oleh sorotan lampu pinggir jalanan. Tak ada seorangpun berjalan dan berkeliaran jalan sekitar sini. Kuharap tak ada sesuatu yang terjadi. Mataku sembab, oleh tangisan yang aku keluarkan. Tidak boleh!, ini adalah keputusanku. Resiko yang perlu di hadapi adalah tanggunganku sendiri bukan orang lain. Aku tak boleh lemah. Ayo bangkit Nisa, pasti kamu bisa!. Ya, aku harus bangkit inilah aku. Aku harus mencari tempat untuk berteduh. Tak mungkin aku berjalan hingga fajar terlihat. Di sudut sana ramai perkotaan. Akhirnya aku berjalan sudah cukup jauh dan menemukan sudut antara perumahan dan jalan raya. Ternyata jalan ini ramai banyak kios-kios berada di pinggiran jalan. Ku lalui dan terus berjalan. Aku juga tak tahu mau kemana aku berjalan. Biarkan saja langkah ini yang menentukan. Suara-suara kendaraan masih meramaikan jalanan ini. Aku melihat banyak sekali gelandangan yang tertidur di pinggiran kios-kios, beralas kerdus dan tidur tanpa adanya bantal maupun guling. Oh ya?, apa aku tidur di sini saja. Ide yang bagus, tak apalah yang penting aku dapat beristirahat dan memikirkan kemana aku akan menghentakan langkah selanjutnya. Aku letakan tas ranselku, biarkan tas ini sebagai bantal untukku. Kulihat sekelilingku akupun tersenyum kecil dan mengatakan selamat malam semua…..
…………………………..
“ Mbak..mbak..mbak,bangun mbak…”
Sepertinya hari sudah menjelang pagi. Aku terbangun karena seseorang telah membangunkanku .
“Huh,kenapa mbak membangunkan saya?”
“Harusnya saya yang tanya, kenapa mbak tidur di depan kios saya?”
Aku baru ingat kalau aku sedang berada di dunia luar.
“Maaf mbak…maaf…”
“Sudah sana pergi!. Lain kali gelandangan tidurnya di pinggir jembatan. Bukan di depan kios saya?”
Gelandangan?. Apakah aku sama seperti gelandangan di sedia kalanya?. Sehinakkah gelandangan itu, meski mereka sama-sama manusia. Tak punya sedikit perasaan manusiawi. Baru saja punya kios sudah sombong, seenaknya ngusir orang. Sudahlah aku tak mau berdebat lagi. Pagi menyambutku sedangkan aku tak tahu mau kemana. Aku hanya punya kunci utamanya yaitu langkah kaki. Biarkan langkah kaki ini berpijak dimana kaki ini harus berjalan. Para pedagang pinggiran mulai melakukan pekerjaannya yaitu jual beli. Perutku yang mulai berteriak-teriak menginginkan untuk diisi. Ku rogohkan tanganku di saku celanaku. Yah hanya ada lima ribu. Aku lupa kalau aku tidak membawa uang sepeserpun. Uang lima ribu ini sisa kemarin di rumah. Takpapa aku belikan makanan seadanya untuk menghentikan teriakan perutku.
“bakpaou….bakpaou..ayo beli..beli…,ada rasa kacang,stroberi dan coklat”
Hah?,apa aku belikan itu saja. Lumayan, dan pasti masih hangat.
“Pak beli pak…”
“Bakpaou neng, Mau rasa apa?”
“Yang kacang aja deh pak. Bakpaounya masih hangatkan pak?”
“Ya masihlah neng…,pagi-pagi enakanya anget-anget. Ini neng”
“Ni pak uangnya makasih…”
Huh,akhirnya aku bisa makan dan menghentikan teriakan perutku ini. Hemm lezat. Seumur-umur aku tak pernah makan makanan seperti ini. Pasti orang-orang serumah akan memarahiku. Tapi sekarang aku bebas, bebas melakukan semuanya
. “ "Hug..hurgs..hurgs…”
Batukku mulai kambuh
“Hug..hug..hurgszz…”
Bertahan Nisa.. Kamu bisa kamu pasti bisa menahannya. Kuputuskan untuk tetap berjalan terus dan menelan makanan ini sampai habis. Yakinlah kalau ini bukan saatnya. Bukan..bukan…bukan…
……………………………..
Udara semakin panas dan keramaiaan kota makin gempar. Asap kendaraan yang menimbulkan polusi ini semakin kelayapan kemana-mana. Global warming, gimana nggak?. Coba aja kendaraan ini pakeknya sepeda pasti lapisan ozon bumi nggak bakalan protes terus…Dan manusia nggak bakalan ngomel-ngomel gara-gara kepanasan. Ku sebrangi jalanan ini melewati kendaraan yang ada. Banyak pengamen-pengamen jalanan. Mereka anak-anak kecil yang tak bersekolah merelakan hidupnya hanya untuk mencari uang. Sebegitu besarnya jiwa mereka mencari uang demi makan serta hidup bersama orang-orang yang mereka sayangi. Tunggu!, anak kecil itu. Aku tak menyangka kalau mereka akan melakukan hal seburuk itu. Mencopet, bukannya itu hak orang lain dan mereka mengambil sebagaimana bukan haknya.
“Pak awas pak itu copet!!!!!”
“Ampun pak..ampun..ampun…”
“Kamu?, kecil-kecil udah jadi pencopet. Gimana besok gedenya,heh?”
“Ampun..pak…ampun..jangan laporin saya kepolisi pak. Kasian ibu saya pak sedang sakit. Saya anak Yatim pak,ampun..pak..ampun…”
Kenapa?,kenapa anak itu harus mencopet. Tidak adakah jalan yang bagus untuk menghasilkan uang.
“Ya sudah sana pergi!. Lain kali jangan lakukan lagi hal ini..”
“Iya pak makasih..makasih..”
Aku penasaran dengan anak itu. Ku kejar anak itu.
“Hei kamu!. Berhenti… Woi…”
Gila cepet banget larinya. Kenapa anak itu lari kebirit-birit kayak gitu. Kan aku nggak hantu ataupun kuntilanak. Sumpah aku nggak kuat.
“Woi berhenti…Aku nggak mau ngapa-ngapain kok…Udah dong berhenti larinya”
“Kakak mau ngapain??”
“Huh, akhirnya kamu berhenti juga. Huh..heuh…hueh.. larimu cepet juga ya?. Udah nggak usah takut ama kakak”
“Emangnya kakak mau ngapain?”
“Aku….”
Tiba-tiba seorang gadis kecil berjilbab putih berlari menghampiri anak kecil itu.
“ Kak.. ibu kak.. ibu.. kambuh..”
“Apa?. Ayo dik cepetan temui ibu..”
Nggak nyangka ternyata dia adalah adik anak itu. Aku cepat mengikuti mereka. Sungguh apakah ini rumah mereka?. Ini seperti gubuh kecil yang tak layak untuk tempat tinggal. Bagaimana kalau sedang hujan ataupun badai. Aku tak pernah membayangkan bahwa hal ini masih ada yang terjadi. Walupun zaman sudah modern seperti ini.
“ Ibu…ibu… ibu kenapa?”
“Aa..adddam… darimana kamu nak?. Kamu nggak lagi nyopetkan?”
“Maafkan adam bu…”
“Bukannya kamu sudah berjanji dengan ibu. Biarkan ibu jatuh sakit dan meninggal dari pada. Ibu menerima uang haram yang kau curi itu!”
“Ibu.. maafkan adam bu?. Adam nggak berniat untuk mencuri. Niat adam ingin ibu sembuh…”
“Buat apa ibu sembuh. Buat apa nak?. Kalau kau masih menggunakan uang haram itu. Buat apa?”
“Hu..hu..hu ..ibu…”
“ Mila.. anakku..”
“A…dam…, bila ibu sudah tidak ada bersama kalian. Ibu mohon nak jagalah adikmu Mila. Dan pergilah kalian di panti asuhan jangan kalian sampai berpisah. Karena kalianlah yang dapat menuntun ibu dan almarhum bapak ke negri akhirat. Jadilah anak sholeh dan sholehah. Tinggalkanlah sesuatu yang buruk. Bersihkan hatimu ya nak, terutama kamu Adam…”
“Ibu.. ku mohon ibu bertahan… Adam.. adam ingin mencari uang demi menyembuhkan ibu…”
“ Sudahlah nak jangan memaksa. Mungkin ini sudah takdir. Iiii..iibu pergi dulu nak hati-hati kalian n..nak..”
“IBU..IBU………..”
Aku merasakan ini adalah sebuah mimpi yang nyata. Tak bisa ku bendung air mataku ini. Kehidupan mereka terbalik dari kehidupanku. Aku ingat dengan orang-orang yang berada di rumah. Begitu kerasnya hidup di dunia bebas seperti ini. Menanggung semua hal sebagai beban kehidupan. Akankah aku seperti ibu Adam. Apa yang aku harus lakukakan sekarang?. Menolong mereka untuk pergi ke panti. Ya Rabbi.. ku kembalikan semua yang ada di hadapanku kepadamu. Engkau mengetahui sgala jalan bagi manusia yang telah menempuh-Nya. Akankah ini akan aku alami??. Aku siap untuk menerima takdirmu YA Rabbku.
…. ………………………
Setelah tragedi itu aku berusaha untuk membantu Adam dan Mila ke panti asuhan. Mungkin disana mereka dapat menghilangkan rasa pedih yang ada di hati mereka. Mereka berdua sungguh luar biasa. Tetap tegar dalam menghadapi sgala masalah yang telah ditimpanya. Aku bantu mreka membereskan semua baju-bajunya dan meninggalkan gubug tua mereka. Aku ingat saat aku meninggalkan rumah begitu sakitnya dan berfikir akan menemukan kehidupan yang berbeda dan merasakan hidup yang bebas. Tapi apakah mereka beranggapan seperti aku ini?. Dalam perjalanan aku menanyakan kepada Mila. Begitukah agama mereka kuat sehingga gadis itu mananyakan jilbab sebagai sandaran hidupnya.
“Kakak sudah balig?”
“Balig?. Apa itu barang?”
“Kakak ini ada-ada aja”
“Kok Adam ketawa, Kan kakak nggak tau?”
“Balig itu apabila seseorang sudah berada waktu usia, yang dimana sesorang sudah wajib untuk beribadah. Biasanya wanita setelah menstruasi”
“O..gitu. Kakak berarti sudah balig kalau kayak gitu!. Trus apa hubunganya?”
“Begini kak. Wajib bagi kita setiap umat islam untuk beribadah. Nah beribadah ini bukan untuk sholat saja tapi menutup aurat juga. Itu adalah kewajiban untuk wanita. Rambut adalah perhiasan bagi wanita dan seharusnya kita sebagai wanita harus menjaganya jangan sampai rambut kita di perlihatkan oleh orang-orang yang bukan muhrimnya.”
“ Oh begitu…..”
“Trus kakak mau pakai jilbab, seperti Mila”
“ Kakak nggak punya jilbab Adam…”
“Kakak bisa pinjem punya Mila dulu. Mila punya banyak”
“Boleh-boleh”
“Ini kak Mila pakaiin sekalian”
Inikah aku yang tak tahu ilmu agama. Begitu malunya dengan anak ini. Mereka berdua sungguh orang yang di cita-citakan oleh ibu mereka. Sungguh beruntung mempunyai anak seperti Adam dan Mila. Aku merasakan jauh lebih baik dari pada suasana hidupku. Aku lega dan aku menikmati suatu kedamaiian yang tak pernah ku dapati. Inikah petualanganku.
“Hug…hugsz..hugszz”
“Kak..kak Nisa nggak papakan?”
“Nggak papa kok hanya batuk biasa”
“Hug..hug..hugszzzz!!!” Berdarah…apa penyakitku kambuh..Mengapa aku begitu lemah. Tidak!, aku tak ingin mereka tahu hal ini. Bertahan..bertahan Nisa. …………………………………….
Akhirnya aku dapat mengantarkan Adam dan Mila ke dalam lingkungan yang lebih baik. Ternyata nasib anak-anak disini sama seperti Adam dan Mila, bahkan lebih pedih. Aku tahu sekarang rahasia sang pencipta. Dan aku tahu sekarang bahwa aku hidup unutk karena-Nya bukan untuk kedua orang tuaku ataupun sanak keluargaku. Aku akan tetap bertahan dalam kondisiku sekarang sebelum aku ingin meminta maaf kepada semua keluargaku dan Hijrah ke alam akhirat. Aku memutuskan untuk hidup bersama meraka di sini. Ya, panti asuhan. Dan apabila keluargaku tahu pasti mereka memahami apa yang aku maksud. Hidup untuk-Nya dan berbagi untuk orang lain…

Tidak ada komentar:

Posting Komentar